Rasanya tlah berpuluh kali aku berusaha mempercayaimu, namun berulang kali usaha itu termentahkan oleh berbagai realita yang aku temui. Ironis.. Karena rasa yang kupunya, berulang kali aku memaafkanmu dan berusaha mempertahankan hubungan ini. Bukan hal yang mudah, namun aku lakukan. Aku nafikkan ego dan sakit yang aku rasa. Namun rupanya ini hasil yang aku tuai. Pernahkah mati-matian mempercayai sesuatu? Namun ternyata hal itu adalah kebohongan belaka? How stupid I am.. Entah kemana logika dan rasio selama ini hingga kemudian aku berlaku sebodoh ini?
Terlalu sering jika aku berucap sakit, dan terlalu sering rasanya air mata ini tertumpah. Tapi kini aku tak mau lagi itu. Betapa kemudian aku mendapati kalau diriku tak lebih hanya sebagai *********** untukmu. Fuck!!! Maaf.. namun ini yang aku rasakan padamu.
Rasa sakit ini tlah terakumulasi dan membuat rasa yang ada padamu tlah bermetamorfosa. Aku tau, kalau manusia tidak ada yang sempurna dan adakalanya melakukan khilaf, seperti argumenmu selama ini. Namun yang aku tahu, seharusnya tidak menjadi pembenar untuk saling menyakiti.
Aku tidak sedang menyalahkanmu. Ini salahku juga. Aku cuma berharap agar kau nantinya belajar untuk lebih menghargai dan menjaga perasaan orang lain. Masih ingatkah kamu dengan pelajaran dari Morrie? Aku berharap kamu mengerti tentang bagaimana cinta itu dan bagaimana menghargai orang lain.
Aku tidak sedang menghakimimu, sebagaimana yang selalu kau tuduhkan padaku, yang menjadikan dirimu sebagai tersangka, hingga berkata "Apa lagi?" Aku cuma berharap agar kau belajar dan aku berharap hal ini tidak akan terjadi lagi. Aku tau, kamu sangat cerdas untuk bisa mengerti tulisanku yang dangkal ini, dan terlalu cerdas untuk menilainya. Namun mengapa kau tidak cukup cerdas untuk mengetahui bahwa apa yang kau lakukan menyakiti orang lain?
Rasa ini tlah bermetamorfosa dan membuatku ingin melupakan dirimu. Bahkan kadang berpikir "seandainya.." seandainya aku tak mengenalmu, seandainya aku tak memberimu kesempatan, seandainya aku cukup cerdas untuk berpegang pada rasioku bukan rasa, seandainya... Namun hidup tak mengenal seandainya, yang ada adalah waktu yang terus melaju dan hidup yang terus berjalan karena semuanya bergerak ke depan.
Maaf jika aku tlah mengacaukan rencana kamu... Doaku bersamamu, semoga kamu bahagia dan dapat memaknai hidupmu.
kemudian hari ini tiba
saat kita kemudian tak lagi bersama
saat rasa untukmu tak bisa lagi aku berikan
saat sakit menyeruak antara kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar